SUARA MERDEKA, 23 Juli 1997, Halaman II

SEMARANG – Jika Anda pernah menilai anak alanan tak memiliki kreativitas, bisa jadi, pandangan itu keliru besar. Buktinya, memperingati Hari Anak Nasional, 23 Juli, Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) bekerjasama dengan Pusat Studi Wanita (PSW) Lembaga Penelitian (Lemlit) Undip, Forum Kerjasama Pemerhati Anak Jalanan Semarang (FKPAJS), LP2M, dan FKPPAI akan menggelar serangkaian kegiatan seni budaya, 23-27 Juli 1997, di kampus Undip.

Organisasi-organisasi itu akan menggelar serangkaian kegiatan dengan tajuk Gelar Kreativitas Anak Jalan. Antara lain pameran karya anak (gambar, puisi, cerita, kerajinan, foto, kliping, instalasi, serta pertunjukkan musik dan tari). Juga akan digelar bazar buku, dialog dan sarasehan anak jalanan dengan Pemerintah, kepolisian, rohaniwan, dan tokoh masyarakat. PAJS juga akan mengadakan berbagai lomba dan aksi bersih kota.

Dalam bazar akan dijual berbagai buku, majalah dan buletin yang membahas masalah anak-anak jalanan. Juga dijual berbagai kaus, stiker, serta barang-barang kerajinan yang semuanya karya anak-anak.

Sekitar 200 anak

Tak berlebihan jika kegiatan itu dikatakan “milik” PAJS. Sebab, sekitar 200 anak jalanan dalam paguyuban itu akan terlibat dalam acara tersebut. Paling tidak, berbagai pertunjukkan dan pameran seni budaya dalam kegiatan itu merupakan karya mereka.

“Kegiatan ini memang untuk memberikan ruang bagi anak-anak jalanan untuk berekspresi. Sedangkan dari forum dialog dan sarasehan kami berharap muncul model penanganan yang baik terhadap anak jalanan,” ujar kakak pendamping dari PAJS, Winarso.

Sarasehan itu dengan tema “Alternatif Pengentasan Anak Jalanan,” dengan pembicara Darmanto Jatman, Sutanto, Simon Hate, Nugroho, Nunik Sriyuningsih, dan beberapa aktivis LSM yang mengurusi anak-anak jalanan. Kegiatan itu akan berlangsung Sabtu (26/7) mulai pukul 10.00 di Lemlit Undip.

Sebelumnya, Kamis (24/7), anak-anak jalanan akan tampil dalam sarasehan di hari pertama. Anak-anak akan menceritakan alasan mereka turun ke jalan, pengalaman, masalah yang dihadapi, serta harapan-harapan mereka. Sedangkan sarasehan pada hari kedua (25/7) membahas kesenian jalanan, mulai dari musik, teater, sastra, dan seni rupa.

Ketua Panitia Ir Nuniek Sriyuningsih, MS mengatakan, di luar seni budaya, PAJS juga peduli terhadap lingkungan. Mereka akan membersihkan tempat-tempat tertentu. (D4, F12-50a)