Kompas, 2002 

PUKUL 23.30, udara malam di kawasan Simpanglima Kota Semarang terasa menusuk tulang. Di beberapa sudut Lapangan Pancasila, di tengah kawasan Simpanglima, terlihat beberapa remaja putri usia belasan, duduk bersenda-gurau di tenda teh poci yang bertebaran di bundaran Simpanglima.

Sesekali, remaja yang dikenal dengan sebutan ciblek, menggoda pria yang lalu lalang. Anehnya, di tengah suasana dingin remaja putri ini tidak merasa kedinginan sekalipun mengenakan kaos tipis tanpa lengan.

“Mas…, mas…mampir mas,” teriak gadis remaja ini mengundang pria yang kebetulan lewat. Beberapa pria tergoda untuk mampir di tenda teh poci, bahkan yang menggunakan mobil pun sering mampir.

Sambil tersenyum dan bersenda-gurau mereka berusaha agar pria yang mampir menikmati teh poci dam makanan kecil lainnya. Dari upaya menarik pembeli, remaja putri ini mendapat fee dari penjual teh poci. Misalnya, untuk satu poci teh yang harganya Rp 6.000 hingga Rp 7.500 per poci, mereka mendapat Rp 1.000. Padahal di warung lain, harga secangkir teh poci hanya Rp 1.000-Rp 1.500.

Beberapa remaja putri mengakui, dari upayanya itu setiap hari memperoleh minimal Rp 10.000. Pada malam minggu jumlahnya bisa lebih. Pemasukan mereka tak cuma itu , karena ada pemasukan lain, dari kencan. Tarif kencan, tergantung negosiasi dengan tamu. “Kalau mau bawa boleh oom, Rp 150.000 untuk short time,” ujar Rilda, bukan nama sebenarnya. Malam itu, ia nongkrong bersama dua rekannya. Ia punya teman yang tarifnya lebih murah, Rp 100.000.

Penentuan tarif juga ditentukan oleh kategori kelompoknya. Untuk mereka yang beroperasi dibundaran Simpanglima, tarif mereka berkisar Rp 50.000 hingga Rp 150.000. sedang yang mangkal di tikungan Jalan Pandanaran dan Jalan Gajah Mada, berkisar Rp 250.000-Rp 500.000.

KEBERADAAN remaja pekerja seks ini atau “ciblek” mulai marak empat tahun terakhir. Namun, kemunculan mereka tak semata-mata langsung ada. Ada sejarah panjang dibalik kemunculan remaja putri ini ke bisnis seks yang biasa dilakukan perempuan dewasa. Tahun 1990an, untuk pertama kali fenomena “ciblek” muncul sepanjang Jalan Pahlawan ketika marak trek-trekan – balap sepeda motor bebas – oleh anak-anak muda setiap malam minggu.

Remaja pekerja seks, ketika itu, mulai muncul. Mereka dikenal dengan istilah gondolan atau pedotan, bocah putri yang suka mejeng dan bisa diajak kencan nauk motor lalu didrop kembali dijalan itu. Hiburan, dan hura-hura, tujuannya. Jumlahnya kala itu masih sedikit.

Kini, jumlah remaja putri yang terjun– dan terpaksa terjun – kebisnis seks ini meningkat setelah krisis ekonomi 1997. Bahkan, kian bertambah ketika tenda teh poci mulai menjamur di Simpanglima.”Bertambahnya jumlah mereka dipicu semakin banyaknya penjual  teh poci, seolah ada ‘simbiosis mutualisme’ (saling menguntungkan) diantara ciblek dan penjual. Tapi, kami tidak bisa menindak, hanya bisa mengingatkan dan meminta para penjual tersebut,” ujar Tommy Y Said, Kepala Satpol Pamong Praja.

Kehadiran  remaja pekerja seks ini terus bertambah, bahkan lokasi baru pun bermunculan. Seperti Jalan Setiabudi sampai Banyumanik, Jalan Sriwijaya dan beberapa jalan lain. “Selama ini tidak ada yang serius memperhatikan mreka. Mereka seperti orang yang terbuang,” ujar Hening Budiyawati, dari Yayasan Setara. (who/vin/son/hrd).