SUARA MERDEKA, 23 April 1997, Halaman II

Novi Veriana, Mahasiswi FE Undip :

Mereka nggak mengganggu banget kok. Lagi pula, ngamen-nya kan pas lampu menyala merah, sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas. Tapi kalau mereka merusak mobil, jelas saya tidak setuju. Kalau para pengamen sampai berbuat seperti itu, saya yakin karena ada faktor lain, misalnya pengemudi mobil yang bersikap tidak menyenangkan. Jadi, menurut saya, selama kita memperlakukan mereka baik, saya kira mereka juga akan baik terhadap kita.

Trimah, Jalan Sompok 38 :

Saya tidak setuju dengan pengamen di lampu bangjo. Selain mengganggu ketertiban, mereka juga sering meresahkan. Pemerintah mestinya mengarahkan mereka dan memberikan pendidikan yang cukup. Ini bukan sekadar uang Rp 100, tapi tindakan mereka bisa meresahkan. Sebab, kalau tidak diberi, para pengamen itu suka memaksa.

Kartika, karyawati Hotel Santika Semarang

Kalau melihat mereka, sebenarnya saya kasihan juga. Pada usia belia seperti itu, mereka sudah harus mencari utang dan di tengah jalan yang panas. Pikiran seperti itu yang memenuhi benak saya. Pokoknya, kasihan. Menurut saya, mereka sebenarnya tidak begitu mengganggu. Saya akan sangat berterimakasih kalau ada orang yang menaruh perhatian terhadap mereka. Dengan melihat penampilan mereka yang kecil, dekil dan tak terurus seperti itu, memang sudah seharusnya orang-orang kaya membagi perhatian terhadap mereka.

Ade, Humas IKWI Jateng

Secara pribadi, saya tidak setuju dengan pengamen di sekitar traffic light. Lampu merah bukan tempat yang representatif untuk ngamen. Mestinya mereka tidak ngamen di sana. Lagi pula, mereka sebenarnya tidak menghibur. Mereka juga asal bunyi. Mereka malah mengganggu ketertiban lalu lintas. Kenapa mereka nggak memilih tempat lain yang lebih baik seperti restoran atau warung makan. Selain itu, para pengamen juga meresahkan. Kalau nggak diberi uang, kadang-kadang suka mengumpat, ngomong jorok, menggores bodi mobil. Pokoknya, nggak sopan. (D4-50b).