TAJUK RENCANA: Fenomena tentang Anak Jalanan (Suara Merdeka, 1997)

SUARA MERDEKA, 9 Mei 1997

Yayasan Duta Awam Semarang (YDAS) mengungkapkan segi-segi yang sangat menarik tentang kehidupan anak jalanan di kota Semarang. Mulai dari jumlahnya yang diperkirakan mencapai 600 anak, angka yang membuat kita cukup tercengang, perilaku dan kehidupan mereka sehari-hari, penyebab meninggalkan rumah keluarga atau lari dari rumah, tempat-tempat dan cara melakukan aktivitas atau sekadar nafkah untuk bertahan hidup, hingga hal-hal yang mereka anggap sebagai gangguan bahkan ancaman bagi “ketenangan” hidup sehari-hari dan lain-lain. Satu hal yang mengejutkan, mereka ternyata memiliki wadah yang disebut Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) lengkap dengan pengasuhnya yang disebut “kakak pendamping”. Winarso (27), pemuda yang bersedia berperan sebagai kakak pendamping mengingatkan kita kepada Ibu Theresa yang menjadi terkenal ke seluruh jagat karena membaktikan dirinya bagi kaum miskin di India.

Bagi warga ibu kota Jateng pada umumnya, semua itu selama ini merupakan hal-hal yang berada di bawah sadar. Permasalahan itu seolah-olah tenggelam di tengah hiruk pikuk dan makin kerasnya persaingan hidup di kota besar. Yang tampak hanya gejala-gejala kecilnya. Misalnya tentang anak-anak kecil yang ngamen di beberapa perempatan jalan. Hal itu menyita perhatian kita karena ada gejala makin lama makin mengganggu ketenangan di jalan. Karena jumlahnya yang makin banyak dan ada yang menunjukkan sikap memaksa ketika meminta sedekah. Tak sedikit yang mengeluh ketika melihat mobilnya tergores benda keras gara-gara tak memenuhi permintaannya. Terutama pada malam hari. Misalnya yang terjadi di simpang lima Jalan Pemuda depan Gedung PLN, simpang empat jalan Gajahmada-DI Panjaitan, bundaran Tugu Muda, dan lain-lain.

Terutama ada dua hal yang sangat mengherankan tentang sikap atau pemikiran anak-anak jalanan tersebut. Pertama tentang sikap mereka terhadap kehidupan yang dijalaninya. Sebanyak 84,4 persen dari 101 yang diteliti, menyatakan senang dengan kehidupan yang dijalaninya. Hanya 14,6 persen menyatakan tidak senang. Sangat mungkin jawaban itu dipengaruhi oleh faktor usia (dibawah 16 tahun), kehidupan semula, dan sumber-sumber mereka lari kejalan. Makin dewasa usianya diduga akan mengubah pandangan dan sikap tersebut. Karena mereka milai berfikir tentang masa depan yang panjang. Kedua, tindakan penertiban oleh kepolisian/ petugas tibum yang dianggap ancaman paling berbahaya (20,3 persen). Alasannya, tertangkap berarti disiksa. Karena itu mereka berusaha lari yang ternyata membawa bahaya lain: tertabrak mobil.

Benar atau tidak jawaban tersebut, perlu dikonfirmasi kepada para petugas yang biasa menangani masalah tersebut. Sebab pada dasarnya, tindakan tehadap mereka adalah dalam rangka menegakkan ketertiban kehidupa masyarakat. Berkeliaran di jalan, apalagi anak jalanan, adalah pelanggaran terhadap ketentuan hukum. Mungkin pula tindak kekerasan sekali waktu terpaksa diambil karena anak-anak tersebut memang melakukan pelanggaran. Tindakan keras terpaksa diambil sebagai sarana pendidikan. Setidak-tidaknya agar mereka jera dari kehidupan liar yang bisa menimbulkan berbagai kerawanan. Berbahaya bagi diri mereka dan masyarakat pada umumnya. Pemerintah, berbagai lembaga masyarakat dan perseorangan, telah banyak mendirikan panti-panti asuhan untuk menampung dan memberi pendidikan.

Anak jalanan boleh dikatakan sebuah fenomena mondial. Hampir semua bangsa menghadapinya, baik yang kaya maupun yang miskin. Terutama di kota-kota besar, Brooklyn, salah sau kawasan di kota internasional New York, terkenal dengan kebrutalan anak-anak jalannya namun sekaligus melahirkan sejumlah nama besar dalam olahraga. Meksiko, adalah sebuah negara yang pemerintahnya paling dipusingkan oleh masalah anak jalanan. Puluhan ribu anak yang tak jelas orang tuanya luntang-lantung di kota-kota besar, menimbulkan keributan, menjarah toko, mengganggu wisatawan di pantai-pantai, dan lain-lain. Untuk mengamankannya, polisi terkadang terpaksa melepaskan tembakan yang mengakibatkan korban jiwa. Namun, tidak ada lagi yang peduli terhadap masalah tersebut. Hampir semua orang, konon, memang sudah merasa terlalu terganggu dan direpotkan.

Tiap bangsa memiliki karakter dan cara sendiri dalam mengatasi dalam mengatasi persoalan yang dihadapi. YDAS telah membuka mata kita tentang salah satu problem kota besar, yang merupakan sebagian kecil dari problem yang bersifat mondial. Kita sependapat dengan wali kota Soetrisno Suharto, untuk mengatasi itu kita harus telusuri sumber masalahnya dengan cermat. Mayoritas sumber permasalahan ada pada rumah tangga. Disana kita melihat salah satu sumber bak lingkaran setan: kemiskinan yang menyebabkan orang tua tak cukup mampu memelihara, merawat, apalagi mendidik anak-anak. Sangat mungkin masih banyak sumber penyebab yang lain. Intitusi keluarga memiliki peran terpenting. Untuk mengatasi masalah, harus memperbaiki institusi rumah tangga. Di lapangan, kita butuh lebih banyak orang yang melakukan pengabdian seperti Winarso, mengoptimalkan peran petugas, masyarakat, dan lembaga sosial yang ada.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *