Pandemi covid-19 merubah bentuk pendidikan dari  luring menjadi  daring, dari belajar di sekolah menjadi belajar di rumah. Setiap hari, jumlah kasus virus covid-19 selalu meningkat, data penyebaran covid-19 pada tanggal 25 agustus 2020 di Indonesia mencpai 160.165 orang sedangkan di jawa tengah 12.826 orang, hampir semua kabupaten/kota sudah terpapar virus covid-19. Berdasarkan  Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaann Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) yang dikeluarkan pada 24 Maret lalu, Kementrian Pendidikan menerapkan pembelajaran di rumah, tidak ada tatap muka di sekolah. Dengan pertimbangan kesehatan dan keselamatan para siswa, maka pendidikan dilakukan secara online dan di rumah untuk menghindari penularan virus covid-19.

15 juni 2020 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan surat edaran  NOMOR 01/KB/2020, 516, HK.03.01/MENKES/363/2020, 440-882 TAHUN 2020TENTANGPANDUAN PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN PADA TAHUN AJARAN 2020/2021 DAN TAHUN AKADEMIK 2020/2021 DI MASA PANDEMI CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-19), yang mengatur bahwa dunia pendidikan di bagi menjadi empat zona yaitu merah, oranye, kuning, hijau. Zona merah dan oranye  tidak diperbolehkan pembelajaran  tatap muka, zona kuning dan hijau diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Untuk zona hijau yang sudah melakukan pembelajaran normal bisa tetap melakukan pembersihan secara berkala dengan menggunakan disinfektan. Lalu lingkungan sekolah dan pesantren  harus menyediakan saluran cuci tangan yang mudah diakses atau bisa menyediakan handsanitizer. Jadi zona hijau harus tetap menerapkan protokol kesehatan, pemakaian masker juga harus tetap dilakukan. Anak didik yang ada di zona hijau harus menggunakan peralatan sendiri. Untuk pelaksanaan ibadah bisa tetap menggunakan masker dan tidak memperpanjang waktu ibadahnya.

Sudah ada beberapa sekolah yang dibuka di beberapa kabupaten/kota, namun ternyata hasilnya justru meningkatkan angka penularan covid. Sekolah bisa mengontrol protokol di sekolah namun di luar sekolah sudah di luar kendali sekolah. Sekolah harus tetap berhati-hati terkait penularan covid dari dunia pendidikan sekolah harus juga menjamin keberlangsungan pendidikan. Di Jawa Tengah ada beberapa sekolah yang buka tetapi akhirnya ditutup lagi dan dipantau lagi protokolnya ada beberapa kendala terkait dengan siswa terkait akses internet dan kuota. Guru harus bisa membuat inovasi terkait kendala-kendala yang dihadapi agar pembelajaran tetap bisa sampai.

Tarik ulur pembelajaran jarak jauh penyebabnya ialah virus covid-19. Penyebaran virus covid-19 bisa di tekan maka pembelajaran jarak jauh akan ditarik minimal daerah itu di zona kuning, maka pembelajaran tatap muka bisa di laksanakan. Dalam hal ini, peran dunia pendidikan bukan hanya memberi pembelajaran kepada siswa siswi nya akan tetapi dunia pendidikan harus memberi pendidikan kepada masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan sehingga penyebaran virus covid-19 bisa ditekan kehidupan menjadi normal dan dunia pendidikan kembali normal yaitu pendidikan tatap muka di sekolah.

Azis Rahmad Ahmadi