Tiap Tahun 900 – 1.200 Anak Jadi Korban Perkosaan

Semarang, Kompas, 5 Agustus 1999

Dari sekitar 900 – 1.200 anak-anak yang jadi korban perkosaan setiap tahun di Indonesia, sekitar 60 persen berusia rata-rata di bawah 15 tahun. Kondisi yang memprihatinkan ini dikemukakan tim Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jateng yang dipimpin Prof Dra Niswatin Rakub dan Winarso, Ketua Pengurus Harian Yayasan Setara Semarang. Keduanya memberi keterangan kepada wartawan secara terpisah berturut-turut hari Selasa (3/8) dan Rabu.

Data itu diperoleh dari penelitian sejumlah lembaga, antara lain Kalyanamitra, Pusat Studi Wanita (PSW) Undip, Yayasan Setara dan sejumlah peneliti sejak tahun 1997. Anak-anak yang jadi korban perkosaan itu sebagian besar adalah anak jalanan perempuan, yang menurut Winarso berpotensi melacurkan diri setelah dewasa.

Meski tidak mengetahui pasti jumlah anak jalanan di Indonesia, namun berdasarkan data Departemen Sosial, setidaknya terdapat 50.000 anak yang tinggal dan mencari nafkah di jalanan kota-kota besar Indonesia. “Namun, banyak pihak meyakini jumlah sesungguhnya di atas data itu. Bahkan diperkirakan berkisar 50.000 – 170.000 orang,” jelas Winarso.

Dilacurkan

Winarso yang juga menjadi pendamping anak jalanan Semarang menyatakan, keberadaan anak jalanan perempuan dan anak yang dilacurkan merupakan realitas sekarang ini. Bahkan, survei Yayasan Setara tahun 1999 menemukan, dari 100-200 anak jalanan perempuan di Semarang, 46 persen adalah anak yang dilacurkan.

“Kalau selama ini, kondisi dan kehidupan anak jalanan diketahui sangat buruk, maka kehidupan anak perempuan lebih dari itu,” tuturnya.

Selain itu, Yayasan Setara juga menemukan 64,29 persen anak jalanan perempuan pernah berhubungan seksual. Ironisnya, dari pengakuan mereka terungkap, pertama kali berhubungan seksual, umumnya pada usia 13-16 tahun.

“Yang amat memprihatinkan, penelitian menemukan anak yang pernah berhubungan seksual pada usia di bawah 10 tahun,” kata Winarso. Sebagian besar atau 80,5 persen melakukan pertama kali dengan pacar mereka, dengan alasan suka sama suka dan karena diperdaya/diperkosa. Lainnya melakukan dengan teman, tetangga, dan orang yang tidak dikenal.

Selain itu, dari 74,2 persen anak jalanan perempuan yang pernah berhubungan seksual, diketahui sering berganti-ganti pasangan dan sering meminta imbalan seperti uang, makanan dan lain-lain.

Winarso menilai, anak jalanan perempuan sangat rentan mendapat perlakukan salah dari komunitas jalanan maupun berbagai pihak. Kasus yang sering dihadapi, perlakuan salah secara fisik, nonfisik dan seksual.

Akibatnya, banyak anak jalanan perempuan korban penyalahgunaan obat-obatan rentan terhadap penyakit seksual yang menular (HIV/ AIDS). Kondisi ini, lanjut Winarso, perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.

Untuk menumbuhkan kepedulian terhadap anak jalanan perempuan, Yayasan Setara, Unicef dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jateng, akan menyelenggarakan Seminar “Mengungkap Situasi Anak Jalanan Perempuan dan Anak yang Dilacurkan,” Kamis ini di Hotel Santika Semarang. (son)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/9908/05/daerah/tiap08.htm