Tugu Muda dipenuhi ‘ranjau darat’ (Wawasan, 2000)

WAWASAN, 9 Desember 2000

BAGI orang Semarang, Tugu Muda adalah simbol jati diri. Tapi bagaimana jadinya, bila simbol kebanggaan tersebut tiba-tiba berubah menjadi tempat yang jorok dan kumuh? Malu, tentunya. Tapi, cukupkah sekadar malu?

Ingin tahu bagaimana kondisi Tugu Muda saat ini? Cobalah saksikan sendiri, mulai pagi hingga malam. Begitu mendekat, bau tak sedah sudah menyengat hidung.

Kawasan Tugu Muda memang akhir-akhir ini sering dikeluhkan masyarakat karena banyak bersliweran anak-anak jalanan yang menganggu kelancaran berlalu lintas. Menjelang sore, mereka bisa bergerombol di traffic light dan berebut rupiah dari para pengendara yang berhenti saat lampu merah. Mereka tak jarang berlarian menepi saat kendaraan melanjutkan lajunya setelah lampu menyala hijau.

Saat sore hari, trotoar bundaran Tugu Muda pun sering menjadi arena warung lesehan tiban. Beberapa pedagang makanan menggelar dagangannya melayani anak jalanan yang jajan tiap sore. Dampaknya, sampah plastik pun berceceran di trotoar, bahkan bertebaran di jalan.

Tugu Muda yang menjadi simbol semangat perjuangan rakyat Semarang saat merebut kemerdekaan, kini seolah tak ada artinya. Lingkungan telah mengubah makna tugu lilin itu. Buktinya, kolam yang sedianya untuk mempercantik penampilan tugu, justru berubah menjadi kolam pemandian dan pencucian gratis bagi orang-orang yang tak jelas dan sering berlalu-lalang di sekitar tugu.

Ironis dan sangat keterlaluan, ternyata kawasan taman dan lantai Tugu Muda banyak dijumpai ‘ranjau darat’ alias tinja manusia. Dari pantauan Wawasan, ternyata yang banyak memanfaatkan areal itu untuk pembuangan ‘ranjau’ adalah para anak jalanan dan gelandangan.

Bagi anak jalanan yang berusia belasan, tentu mereka mampu memilih tempat yang menyelinap untuk membuang ‘ranjau’. Namun yang terang-terangan justru dilakukan oleh anak-anak kecil bagian dari komunitas mereka.

Terpaksa menghindar

Banyaknya ‘ranjau darat’ di sekitar Tugu Muda ternyata berdampak menyiutkan nyali para pengguna jalan yang biasa melintasi trotoar melingkar tersebut.

Triyanto, warga Pucang Gading, yang biasa melintas di trotoar saat hendak menuju kantornya, PT Pusri di Jalan Imam Bonjol, mengaku tak tahan menghirup udara sekitar tugu tersebut.

Dia punya pengalaman, ketika berhenti di trotoar segi tiga, depan gedung eks BDNI, ternyata banyak dijumpai ‘ranjau-ranjau’ yang telah mengering bertengger di atas trotoar. Akhirnya dia mengalah dan tiap hari terpaksa menghindari rute Tugu Muda.

Sebenarnya upaya untuk membiasakan hidup sehat bagi anak jalanan sudah dilakukan para relawan pendamping anak jalanan. Baik Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS), Setara maupun Asa PKBI Jateng.

Salah seorang relawan Yayasan Setara Nining menuturkan, sebagai seorang pendamping anak jalanan baik dia maupun relawan lain telah mengajarkan hidup sehat bagi anak-anak itu.

“Pendekatan untuk memberikan pengetahuan pendidikan kesehatan sudah kami upayakan melalui orangtua. Jadi tidak hanya kepada anaknya saja kami mengajarkan hidup bersih dan sehat. Tetapi mungkin saja karena jauh dari jangkauan pengawasan orangtuanya, maka anak-anak itu jadi tidak terkontrol tindakannya, termasuk dalam hal buang hajat itu,” katanya.

Bisa jadi juga, lanjut Nining, acara buang hajat yang memang kebanyakan dilakukan oleh anak jalanan yang berusia di bawah 10 tahun itu dilakukan karena mereka malas mencari WC umum.

“Padahal ada WC umum di sekitar Pasar Bulu, atau bahkan mereka bisa pulang ke rumah sebab rata-rata anjal di situ berasal dari daerah Gunung Brintik yang lokasinya tidak jauh dari Tugu Muda. Namun karena tidak adanya pengawasan dari orangtuanya itulah yang membuat anak-anak itu jadi berbuat seenaknya,” ungkap Nining lagi.

Berdasar data Setara, jumlah anak jalanan yang mengais rezeki di sekitar Tugu Muda ada 63 anak. Semuanya berusia di bawah 18 tahun. Yang berusia di bawah 10 tahun jumlahnya sekitar 20 anak. Bisa dibayangkan seperti apa jadinya tugu kebanggaan warga Semarang itu kalau tiap hari selalu ada anak yang membuang hajat di tempat tersebut.

Tidak hanya itu, dari sisi kesehatan anak-anak itu memang jelas mudah sekali terkena penyakit kulit dan ISPA (infeksi saluran pernafasan akut). “Bagaimana mereka bisa sehat, kalau tiap hari mereka makan, mandi bahkan tiduran di tempat yang telah tercemar seperti itu,” ujar Amie dari Asa PKBI.

Memang tidak mudah menanamkan pendidikan kesehatan bagi anak-anak yang (mungkin) menjadi korban eksploitasi orangtuanya itu. Selain perlunya penyadaran kepada pihak orangtua, diperlukan pula perhatian dari aparat terkait untuk ‘menyelamatkan’ Tugu Muda. Dinas Pertamanan Kota misalnya, harus rutin melakukan kontrol ke tempat tersebut.

Minimal, tugu yang menjadi saksi sejarah perjuangan warga Semarang dalam merebut kemerdekaan ini tidak hanya elok dipandang dari kejauhan namun juga bisa menjadi tugu kebanggaan yang bersih dan terawat. (Twi/W/Chandra AN-Lw)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *