SUARA MERDEKA, 8 Januari 1997, Halaman III 

Para pengamen jalanan yang selama ini dikenal tak memiliki tempat tinggal yang tetap pun mencoba menikmati malam tahun baru 1997 dengan gaya dan iramanya sendiri.

Simak potongan sajak ini, Di hati yang paling dalam/ dari kejujuran nurani/ kita ingin hidup di sebuah rumah/Bersama orang tua, kakak dan adik, mengayuh perjalanan yang bahagia/ Kita ingin sekolah tinggi/ bekerja enak, hidup tenteram dan mampu menikmati hasil pembangunan negeri ini.

Tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya/ Kita semua menjadi anak jalanan dengan berbagai alasan yang berbeda-beda/ Ada yang sudah tujuh tahun, atau mungkin baru beberapa hari/ Di jalanan kita menghirup racun dari asap-asap knalpot kendaraan/ Diterpa dinginnya angin malam/ Dibakar terik matahari/ Diguyur hujan/ Didera lapar dan dahaga/ Dicambuk mimpi buruk, terpuruk dan telantar.

Hidup di jalanan memang keras. Ungkapan hati nurani itu tercetus lewat orasi yang dibaca puluhan anak dan remaja pengamen jalanan, dalam perayaan menyambut tahun baru 1997 yang diadakan Kelompok Anak Jalanan Semarang (KAJS). Acara itu digelar di aula SD Bernadus, Jalan Dr Soetomo, Semarang.

Tak ada hingar bingar musik dari perangkat elektronik sebagaimana arena menyambut tahun baru di tempat lain. Tak ada kursi mewah yang empuk dan nyaman. Dekorasi pun cukup sederhana, “hanya” terbuat kertas marmer warna kuning.

Tanpa Karpet

Anak-anak pengamen yang rata-rata sudah berkelana dari satu kota ke kota lainnya itu, pun cukup mengenakan pakaian mereka sehari-hari. Kaos oblong dan celana yang biasa dikenakan untuk mengais rezeki, seraya bergelantungan di bus atau di luar mobil di perempatan “bangjo”. Kostum mereka agak kumal  dan tak pernah mengenal licinnya seterika.

Mereka duduk di ruangan berubin – yang malam itu pun tanpa alas tikar atau karpet. Anak-anak pada pukul 21.00 duduk melingkar, dan setelah itu segera menggelar pentas seni. Sebuah pentas karya seni yang memang khas mereka, dari mereka, oleh mereka, dan untuk mereka.

Solikhin, pengamen cilik yang biasa mangkal di seputar Lawang Sewu misalnya, tampil menyanyi dengan lagu Thole yang diciptanya bersama kawan-kawan. Lagu Thole tak lain cerminan kehidupan mereka sehari-hari.

Kisah anak yang harus kehilangan kasih sayang dan di usia dini, dan harus bertempur melawan kerasnya hidup, dan kejamnya Ibu Kota Jateng.

Nurrofiq, juga tampil ke depan membacakan puisi berjudul Doa Tutup Tahun. Terkandung harapan dari puisi itu, agar di kemudian hari ada titik cerah pada alur kehidupan mereka.

Kelompok “Bunga Trotoar” di KAJS yang beranggotakan pengamen-pengamen cilik wanita, juga tampil ke atas pentas membawakan lagu Gerimis Mengundang, yang dibawakan kelompok musik asal Malaysia, Slam. Belakangan ini lagu itu memang mulai tenar di Indonesia.

Dalam kesempatan itu diperkenalkan pula dua orang sahabat baru anggota KAJS. Seperti halnya anggota lainnya, kedua rekan itu yakni Nanang dari Solo dan Jajat Sudrajat dari Tasikmalaya, juga ”ditemukan” oleh anggota KAJS lainnya dan lalu diajak masuk dalam komunitas tersebut.

Nanang, di hadapan teman-teman mengaku sudah pernah sekolah hingga kelas 1 SD. Lantaran tidak kerasan lagi di rumah, dia lalu pergi ke luar kota dengan naik kereta barang. Bocah berusia 10 tahun itu sudah pernah berkelana hingga ke Jakarta dan Surabaya.

Jual Baju

Apa tidak dilarang kondektur sewaktu naik kereta? tanya Suara Merdeka.

“Tidak pernah,” jawabnya lugas.

Jadi sejauh ini tidak pernah mengalami kesulitan selama berjalan-jalan? “Tidak pernah.”

Jawaban Nanang itu pun segera disambut tepuk tangan teman-temannya.

Sementara Jajat, sudah pernah mengalami perjalanan dari Tasikmalaya-Semarang-Jakarta. “Saya diusir ibu dan pergi dengan membawa baju 2 tas. Agar bisa makan, baju itu ada yang saya jual. Saya pernah kecopetan sewaktu tidur di Monas, sebelum akhirnya bertemu Mas Denny,” ucapnya menuturkan kisah “petualangan”-nya.

Denny (28) menjelaskan, sebenarnya “penemuan” para bocah jalanan itu tak pernah sengaja. Artinya, dia tak pernah ia merencanakan untuk menjaring bocah-bocah itu.

“Saya hanya kasihan mereka hidup menggelandang seperti itu. Kebetulan saya punya teman di Semarang (Winarso-Red) yang menampung mereka,” ujarnya.

Sementara itu Winarso (28) mengungkapkan, apa yang selama ini dilakukan tersebut – sejak Oktober 1993 – semata-mata karena ingin membantu mereka.

“Kalau dibiarkan di jalanan, mereka bisa liar dan kurang ajar. Dengan menampung adik-adik itu, kami berharap tingkah laku mereka lebih baik. Dan agaknya saat ini mulai berhasil,” katanya. (Adi Prinantyo, Ganug Nugroho Adi-14).